Assalamu'alaikum ^_^

Yuk kita perbanyak membaca buku dan mendengarkan kajian, Let's Fastabiqul khoirot !

Tuesday, January 31, 2017

Nasyid #26 - Semesta Rasa dalam Sujud Cintaku



Sungguh rasa-rasanya tak baik memendam rasa,
biarlah ku bercerita sedikit tentangmu,
tentang semesta rasa yang telah kau bangun dan ku rasa jua.

Adalah nasyid ini sudah cukup lama ku simpan.
Sebuah syair yang menggambarkan seutuhnya perasaan.
Tentang sebuah rasa yang selalu hadir menyampaikan pesan.
Sebuah perenungan kehidupan yang penuh dengan pemaknaan.

Berbagai rasa terangkai indah di taman hatiku,
Syukur, sabar, taat, cinta, rindu, harap dan cemas.
Menari sayu bersama indahnya kata ingat yang selalu kusebut dalam taatku.
Perasaan sebagai seorang hamba yang penuh dengan kealpaan
selalu hadir merana memohon ampunannya atas segala penghambaan yang masih sangat berbatas.

Sungguh...
Dalam sujud cintaku
Fana ku diulit rindu
Getirnya cemas dikalbu
Takut hidup tanpa ridho Mu

Sungguh...
Kau telah berikan ku segala galanya
Keluarga yang selalu menyayangiku
Sahabat dan teman yang selalu membersamaiku
Lingkungan yang selalu mendukungku untuk tetap ingat
Amanah yang selalu menjagaku untuk tetap taat

Tibalah saatnya kau mengujiku dengan cinta dunia
Cinta pada seorang wanita yang hadirnya selalu ku rindu
Berharap mampu membersamai dalam ingat dan taat
Namun apalah daya ku mampu, hatiku masih diselimuti rasa malu

Kau tahu ?
Dulu aku adalah orang yang paling malu dengan yang namanya wanita
Ku tahu, dulu disaat ku masih duduk dibangku SMP dan SMA
Aku rela jalan memutar, jauh berjalan hanya untuk menghindar
Malu jika bertemu, sadar ku tak mampu menahan pandangku
Jangankan bertemu, berpapasan saja sudah seakan mati kutu
"eh..., ya Allah... kuatkan ya Allah, kuatkan. Bismillah, astgahfirullah, astaghfirullah..."
(tetap berjalan sambil menundukkan mata)

Atas karuniaNya dan ridhoNya ku mempu mengenalmu
Dari sekian banyak wanita yang Allah kenalkan kepadaku
Hanyalah kamu yang mampu meyakinkanku
bahwa bersamammu bisa menguatkan langkah jihadku
Tak sulit ku mengenalmu, dan tak sulit ku menerimamu
karna apa yang kamu lakukan dimajlismu,
tak beda jauh dengan apa yang sedang aku perjuangkan

Sungguh, di potongan hati lainnya,
Aku merasa malu, cemas, dan harap pada kehadiratMu
Malu karna belum ku mampu mentaatiMu dengan segenap penghambaanku
Cemas atas segala amal perbuatanku yang belum jelas baik buruknya menurut penilaianMu
Harap pada ridho dan rahmatMu untuk masa depan akhiratku

Bersamamu, ku berharap dapat bersama hidup sesurga
Saling menguatkan dalam ingat, syukur dan taat
Melahirkan dan membina generasi penerus perjuangan
Berjuang menata hati  untuk senantiasa kaffah dalam fiisabilillah
Berjuang menetapi hati untuk senantiasa istiqomah dalam dakwah

Bersamamu.

Sunday, January 29, 2017

Hikmah #18 - Iffah ( Memelihara Diri )

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, 
suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. 
Beliau bersabda : 

“Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: 

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. 
Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. 

Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan 
jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. 
Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, 
maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. 
Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, 
maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. 

Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering."

Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga Iffah kita
menjaga semangat kita untuk senantiasa memelihara diri dengan amalan ketaatan 
dan menjauhkan diri dari amalan kemaksiatan dan kesia-siaan

1. Iman dan taqwa

Sungguh Allah memberikan jaminan kepada orang-orang yang amal solehnya didasari oleh iman dengan kehidupan yang baik, “Barang siapa mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia orang beriman, maka sesungguhnya kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”
(An Nahl: 97)

Lalu terhadap orang beriman yang taqwa Allah mmberikan AlFurqan, yaitu petunjuk yang dapat membedakan antara Al Haq dengan Al Bathil. “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu Al Furqan dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu.”
(Al Anfal: 29)

2. Nikah

Nikah adalah sarana yang paling baik dan paling afdhol untuk menumbuhkan sikap iffah pada diri seorang muslim. Nikah adalah sesuatu yang fithri pada diri seorang muslim, di mana padanya Allah menjadikan rasa cinta serta kasih sayang dan kedamaian. “Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”
(Ar Rum: 21).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda: ” 
“Hai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena hal itu lebih (dapat) menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena itu dapat mengobatinya.” (Muttafaq Alaih)

Dalam hadits lain beliau bersabda: 
“Apabila seorang hamba telah menikah, maka ia telah menyempurnakan setengah agamanya, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah padayang setengah lagi.” (HR. Al Baihaqy, shohih)

Ayat dan hadits-hadits tadi merupakan nash-nash yang jelas mendorong untuk nikah, di mana ketenteraman hati, cinta dan kasih sayang dapat diraih oleh seorang muslim. Dan yang lebih utama lagi adalah bahwa nikah merupakan sarana yang dapat memelihara pandangan dan kehormatan diri seetiap muslim.

3. Rasa Malu

Malu adalah akhlak indah dan terpuji. Malu adalah sifat yang sempurna dan perhiasan yang anggun. Terlebih indah jika malu ini menghiasi seorang muslimah. Sifat malu selalu tumbuh dalam sikap yang baik dan memadamkan keinginan untuk berbuat tercela. Allah telah mentakdirkan sifat malu ini hanya ada pada manusia untuk membedakannya dengan hewan. Malu adalah potret pribadi yang agung dan terpuji. 

Tentang keutamaan malu ini Rasulullah Shallalhu Alaihi wa Sallam bersabda: 
“Malu dan iman adalah bersaudara, maka jika salah satu dari keduanya itu dicabut, tercabut pulalah yang lainnya.” (HR. Al Hakim, shohih)

“Sesungguhnya setiap agama itu mempunyai akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu.”
(HR. Malik, Ibnu Majah, Al Hakim, shohih) [alsofwah]

Salah satu tips dalam menjaga iffah dengan membuatlah planing dan targeting di setiap harinya. 
Utamanya rencana dan target yang kita buat adalah amalan ukhrowi. 
Sudah seharusnya kita senantiasa membiasakan selalu 
Mujahadah, Istiqomah dan Nidhom dalam beramal sholih

 

Target Dakwah


Planing Dakwah

Friday, January 27, 2017

Nasyid #24 - Senandung Hati



Bersihnya hati, bersihnya jiwa
Hanyalah untuk orang beriman

Lirik :

Hati untuk Allah
Hati milik Allah
Dialah Yang Maha Punya

Hati untuk Allah
Hati milik Allah
Dialah Yang Maha Kuasa

Begitu lemahnya kita sebagai insan
Menggunakan hati tanpa seizin-Nya
Begitu lemahnya kita sebagai hamba
Mudahnya hati menuju jurang terja

Begitu lemahnya kita sebagai insan
Menggunakan hati tanpa seizin-Nya
Begitu lemahnya kita sebagai hamba
Mudahnya hati menuju jurang terja

Bersihnya hati
Bersihnya jiwa
Hanyalah untuk orang beriman

Bersihnya hati
Bersihnya jiwa
Hanyalah untuk orang beriman

Hati untuk Allah
Hati milik Allah
Dialah Yang Maha Punya

Begitu lemahnya kita sebagai insan
Menggunakan hati tanpa seizin-Nya
Begitu lemahnya kita sebagai hamba
Mudahnya hati menuju jurang terja

Begitu lemahnya kita sebagai insan
Menggunakan hati tanpa seizin-Nya
Begitu lemahnya kita sebagai hamba
Mudahnya hati menuju jurang terja

Bersihnya hati
Bersihnya jiwa
Hanyalah untuk orang beriman

Bersihnya hati
Bersihnya jiwa
Hanyalah untuk orang beriman

- Munsyid : Sigma feat Hafiz Hamidun -

Wednesday, January 25, 2017

Bicara Hati #2 - Menghidupkan Hati dalam Kesederhanaan


Tak terasa hari terus berganti,
Sang fajarpun semakin memudar, 
bersama lirihnya lantunan ayat ilahi.
Tubuh yang lemah tak berdaya itu perlahan beranjak bangun.
Dalam doanya rasa syukur senantiasa ia panjatkan,
atas segala nikmat yang telah Allah curahkan.
Nikmat hidup, islam dan iman.

Nampak dari layar handphone ada satu pesan,
oh ya... ia baru tersadar, mungkin itu pesan balasan dari ibuknya
kemarin malam dia mengabarkan kalau kondisinya,
bercerita tentang pengalaman baru di tempat ia bekerja, 
dan yang paling berkesan adalah rasa bahagia,
ketika telah mendapat gaji pertama. ^^

Bismillah...
dalam sms yang singkat ibuk menulis

" Ya Alhamdulillah semoga barokah Am, 
disyukuri jangan melihat jumlahnya
yang kita cari keberkahannya.
Kelihatannya sedikit tapi insyaAllah 
klu kita syukuri akan bisa mencukupi.
Contohnya Bapak dulu, walaupun dulu gaji belum banyak 
dan belum sertifikasi tapi bisa nabung untuk haji,
jangka 10 tahun alhamdulillah Bapak dan Ibuk bisa haji.
Setiap gajian menyisihkan 400 ribu. Alhamdulillah bisa.
Syaratnya satu, kamu harus bisa hidup sederhana "

Perlahan air mata kerinduanpun menetes 
bersama untaian kalimat syukur 
atas kasih sayang yang telah Allah anugrahkan
Sebuah kalimat yang selalu bapak dan ibuk sisipkan 
dalam setiap nasehatnya kepada para putra putrinya
" sederhana "

Tuesday, January 24, 2017

Bicara Hati #1 - Cinta Seorang Hamba


Kurang lebih 24 tahun yang lalu, 
terlahir seorang hamba dari sebuah keluarga yang cukup beragama
lahir dari pasangan seorang wanita pembina asrama
dan lelaki paruh baya yang saat itu menjadi seorang guru agama
mereka tinggal dalam sebuah gubuk sederhana 
penuh dengan ketaatan pada imamnya

Sejak kecil ia menjalani hidupnya dalam bimbingan iman dan taqwa
setiap hari ia selalu diingatkan oleh orang tunya
"Dek... sudah waktunya sholat..."
"Dek... jangan lupa TPA"
"Dek... ayo hafalan dulu"
"Dek... nderek bapak ngaji nggih..."
Sungguh, sebuah kenangan yang begitu indah
senantiasa berkesan karena setiap lembarnya tersirat hikmah

Hampir setiap hari bapak dan ibuk selalu mengingatkan hatinya, 
untuk selalu ingat kepada Allah, kontak dengan Allah.
Apapun bentuknya, entah itu sholat, berdoa, belajar, tpa, ngaji, hafalan dll
sering kali bapak mengajak dia untuk ikut menemani mengisi pengajian,
dari masjid ke masjid, dari kampung ke kampung.
Belum banyak yang dia fahami tentang apa yang disampaikan,
hanyalah kecintaan pada bapaknya, ia setia membersamai.

Sampai pada akhirnya,
kecintaan itu mulai tumbuh pada apa yang disampaikan
tidak hanya cinta pada bapak, majlis dan jamaahnya, 
ia juga mencintai apa yang diajarkannya.
tidak hanya aktif mendatangi pengajian, 
namun ia juga aktif membantu segala persiapan

Semesta rasa yang tumbuh itu semakin merekah indah, ketika ia tumbuh dewasa.
Tahap demi tahap ia lewati dalam perjuangan tholabul 'ilmi 
Semua teladan dan nasehat dari bapak dan ibuknya,
senantiasa tumbuh, layaknya benih yang tumbuh menjadi pohon yang kuat.
Memberikan keteduhan dan manfaat dalam setiap saat.

Kecintaannya pada agama, dakwah dan jihad
menguatkannya untuk tetap semangat menjadi muslim yang kaffah
senantiasa bermujahadah dan istiqomah 
dalam syukur, ingat dan taat.

Tak ada yang hadir dihatinya, melainkan adalah segala sesuatu,
yang menjadikan hatinya semakin cinta pada tuhannya.
Adalah keresahan ketika ia melihat adala segala sesuatu,
yang membuat hatinya lalai dan lupa pada tuhannya.

Tibalah saatnya rasa cintanya diuji oleh Allah,
Masanya bermain, belajar, dan bekerja semuanya telah ia jalani,
Ada sebuah masa dimana hatinya mengagumi sosok sepertinya,
mencintai agamanya, orang tuanya, saudaranya dan aktif dalam beragama.
Allah menguji dengan banyaknya kupu-kupu indah yang terbang di taman hatinya.
Ada yang datang dengan amalan tahfidznya,
ada yang datang dengan ketrampilannya memasakknya,
ada yang datang dengan kepintaran dan kecerdasannya,
ada yang datang dengan kesholehannya,
ada yang datang dengan usaha keluarganya,
ada yang datang dengan kecantikannya,
ada yang datang dengan kasih sayangnya dalam mengajar

Monday, January 23, 2017

Nasyid #8 - Damainya Hati bersama Rosulullah SAW



Damai rasanya hati ini,
bersama lembutnya rintik hujan Merapi
ku mengingat indahnya akhlak Rosulallah Sallahu 'alaihi wasallam

Alangkah indahnya hidup ini,
andai dapat ku tatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
karna pancaran ketenanganmu

Subahanallahu wal hamdulillahi wallahu akbar
Allahumma shoyyiban naafi'an
Semoga hujan ini mendatangkan keberkahan
Seperti kasih sayangmu pada ummatmu,
tulus tak bernilai, indah membawa hikmah

- ^^ -
AM, Merapi 24/01/2017



Materi #10 - Mewarnai Gambar Anak Sholeh



Dakwah bil Hikmah



Dakwah bil hikmah
Jangan sampai kita memutusi baik dan buruknya  seseorang,
tidak ada yang tahu akhir seseorang kecuali Allah SWT.
Bukankah di zaman Nabi Musa ada orang 'alim yang mustajab doanya,
namun di pengujung hidupnya tidak baik, sebagai ulama usshu' (naudzubillah)
Idzan, apabila kita melihat orang kafir, jangan sampai kita menilai diri kita
lebih baik dari pada mereka

Boleh kita membenci kekafirannya, kekufurannya
tapi kita tidak boleh membenci individunya
karena kita tidak tahu akhir kita masing - masing
tidak ada jaminan kita mati khusnul khotimah
maka hendaklah kita selalu syukur, ingat dan taat
kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun

Jadilah hamba, da'i yang tawadhu'
 adalah mereka yang merasa dirinya lebih rendah, lebih hina dibandingkan yg lain
Rosulullah SAW telah bersabda
"Mungkin saja kita lihat orang itu compang camping, tapi kalau dia berdoa
doanya dikabulkan oleh Allah SWT. dan sebaliknya...

Jangan menilai orang dari dhahirnya
Agama islam itu menilai hati seseorang
tidak berhak kita menilai seseorang dari apa yang nampak kita lihat
cukuplah Allah yang Maha Mengetahui segala isi hati seseorang

Tetaplah rendah hati, tawadhu' dan berakhlakmulia
sampaikan kebenaran meskipun hanya satu ayat
berikan contoh, teladan bukan hanya ucapan

Mohonlah pertolongan pada Allah SWT
agar kita senantiasa dikuatkan dalam jalan dakwah
dan agar kita senantiasa mendapatkan hidayah.

Aamiin ya Rabb

AM, Jogja 24/01/2017



Nasyid #7 - Demi Cinta



Demi cinta ku setia menanti
Cinta yang melahirkan kasih dan sayang
Mencintai karena Allah
Saling berkasih sayang untuk Allah

KarenaNyalah cinta ini tumbuh
KarenaNyalah baris kata ini terungkap
KarenaNyalah nama ini terlampir
KarenaNyalah makna ini tersirat
KarenaNyalah nada ini ternginang
KarenaNyalah arti ini tersimpan

Demi cinta ku menantimu
BersamaNya ku mengharapkan hadimu
Membersamaiku dalam berlapis-lapis keberkahan hidup

Hidup Sekeluarga, Hidup Sesurga
KarenaNya, UntukNya, dan di JalanNya

#untukmu

Lirik :

Daku lelaki dikau wanita
Bertemu diatas pentas dunia
Fitrah manusia berkasih bercinta
Tak terpisah bagaikan nafas dan nyawa

Andai itu hajat hati mu
Dengarlah lafaz ikhlas ku
Dikaulah anugerah terbaik buat ku
Kan ku menyayangimu ke hujung waktu

Impian ku (itu impian ku, itu impian ku)

Daku suami dikau isteri
Bersama tempuh panas terik mentari
Kasih sayang ku kasih sayang mu
Tak terlukis di hampar sekadar waktu

Andai waktu tak lagi milik ku
Berjanjilah permaisuri ku
Dua azimat kau gengam pasti selamat
Penyuluh dikala lewat di jalan gelap

Aku kan menanti mu di dalam waktu
Yang terhenti hingga kau kembali pada ku
Kau milik ku demi cinta
Kau milik ku demi cinta
Kau milik ku demi cinta
Kau milik ku demi cinta

Nanti kembali bercinta
Di taman syurga yang indah
Disitulah bermula cinta pertama
Fitrah kan menjadi satu anugerah

[by : http://liriklagu.biz]
Kurniaan dari yang maha kuasa
Kekal lah semuanya di dalam rehda selamanya
Demi cinta (demi cinta)
Demi cinta (demi cinta)
Demi cinta (demi cinta)

Menjadi Ibu Rumah Tangga Profesional


Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan sepenggal cerita
cerita tentang indahnya rumah tangga, hidup berkeluarga dalam asas perjuangan
berjuangan membangun cinta kasih dan sayang, karenaNya, bersamaNya dan di jalanNya

Cerita yang akan saya bagikan adalah profil seorang ibu rumah tangga 
beliau bukan ibu rumah tangga biasa, namun...
dengan karyanya beliau bisa membangun surga dunia keluarganya

Beliau bernama Bunda Septi Peni Wulandani.
Selain sebagai ibu rumah tangga profesional, beliau adalah penemu model hitung jaritmatika, 
juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. 
Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia,
kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. 

Mendengar penyampaian beliau tentang perjuangan mendidik tiga putra putrinya 
rasanya seperti melihat 3 Idiots. Namun ini bukanlah film, tapi benar benar sebuah kisah nyata
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. 
Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban,
untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, 
Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. 

Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. 
Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. 
Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: 
beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. 
Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. 
Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. 
Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. 

Subhanallah... luar biasa bukan ? 
inilah saatnya kisah perjuangan pun dimulai. Let's START begin...^^ 

Nasyid #6 - Iman adalah Mutiara

Salah satu nasyid yang sangat berkesan bagi saya, sampai sekarang msh hafal liriknya. Sangat mendalam hikmah dari setiap bait liriknya. Semoga anda yang mendengarkan juga merasak




Munsyid : Raihan Grup Vocal


Lirik :

Iman adalah mutiara
Di dalam hati manusia
Yang meyakini Allah
Maha Esa, Maha Kuasa

Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya
Tanpamu iman bagaimanalah
Menjadi hamba Allah yang bertaqwa

Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual-beli
Ia tiada di tepian pantai

Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau berentas lautan api
Namun tak dapat jua dimiliki
Jika tidak kembali pada Allah

Jika tidak kembali pada Allah
...

Sunday, January 22, 2017

Nasyid #5 - Hai Anakku...



“Robbi hablii minash shoolihiin.”

“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak)
yang termasuk orang-orang yang saleh,”
(Q.S. Ash-Shaffaat: 100).

“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa.”

“Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa,”
(Q.S. Ali Imron: 38).

“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun 
waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.”

“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami,
 istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami),
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa,”
(Q.S. al-Furqon: 74).



Hai Anakku, Permata hidupku,
ku nantikan hadirmu bersama Ummi mu ^_^

Nasyid #4 - Insan Da'i



Satu hal yang membuat cinta ini tumbuh bersama goresan penamu
yang karenanya Allahpun cinta kepadamu, memuliakanmu dan memberkatimu
adalah dakwah, cinta dalam hati ini tumbuh merekah
bersama semesta rasa yang tak mampu dikata.

Semangat lillah, terus berjuang menjadi kaffah dalam lillah
tetap istiqomah dalam dakwah

Lirik Nasyid :

Dari mata turun ke hati,
Dari niat menjadi bakti,
Walau sekecil mana,

Walau sebesar mana,
Terus berbudi keranaNya.

Kehidupan mengajar kita erti memberi,
Mewakafkan diri apa yang dimiliki,
Sebagai ciptaan Allah yang terindah,
Kita terdidik dengan amanah.

Kita Da'i penyebar inspirasi,
Dengan akhlak terpuji,
Dengan fikrah yang suci,
Kita Da'i bukan ntuk dihargai,
Dengan ikhlas di hati,
Semaraklah kalam Ilahi.

Selagi mana di garis yang benar,
Dakwah akan terus bersinar,
Perjuangan takkan tercalar pudar,
Jasad dan kalbu sentiasa berkobar.

Kita Da'i penyebar inspirasi,
Dengan akhlak terpuji,
Dengan fikrah yang suci,
Kita Da'i bukan ntuk dihargai,
Dengan ikhlas di hati,
Semaraklah kalam Ilahi.

Setiap nafas ia ibadah,
Takkan mudah tak mungkin menyerah,
Perjuangan takkan tercalar pudar,
Jasad dan kalbu sentiasa berkobar,
Kita khalifah pembela agama,
Tak kira siapa walau di mana,
Kitalah Da'i, kitalah da'i,
Ayuh semua kitalah da'i.

Kita Da'i penyebar inspirasi,
Dengan akhlak terpuji,
Dengan fikrah yang suci,

Kita Da'i penyebar inspirasi,
Dengan akhlak terpuji,
Dengan fikrah yang suci,
Kita Da'i bukan ntuk dihargai,
Dengan ikhlas di hati,
Semaraklah kalam Ilahi.






Nasyid #25 - Surat Cinta Untukmu



Seperti halnya dirimu
ketika rasa cinta, rindu dan harap ini tak lagi mampu ku pendam, 
hal terbaik yang bisa ku lakukan  adalah menulis pesan lewat tulisan kepadamu. 
Entah kamu baca atau tidak, tetap ku yakin ada Dzat yang Maha Mengetahui,
yang selalu membaca dan mengetahui setiap semesta rasa yang tumbuh.
Pun dengan yang kamu tulis, aku rasa kamu melakukan hal yang sama untukku
Sungguh aku tak bosan membaca tulisanmu sampai berulang-ulang. 
Seperti saat ku baca firmanNya yang setiap katanya membuatku rindu untuk bertemu

Sedikit surat cinta ini ku tulis
hanya untuk mengawali hariku yang penuh dengan kerinduan itu
kerinduan bertemu denganmu bersama semesta rasa 
yang tak terhitung jumlahnya

Bersamamu...
ku harap kuatkan langkahku, dakwahmu, jihadku

Ukhibukifillah

Nasyid : INTEAM - Surat Cinta


Nasyid #3 - Seindah Sabar



"Hasbunallah wa ni'mal wakiil, ni'mal maulaa wa ni'man nashir"

Cukuplah Allah bagiku
karena Dialah sebaik baik pembantu

Kabarkan berita gembira
Bagimu Surga...

Untukmu yang sedang berjuang, tetaplah dalam sabar
sabar yang indah, sabar yang berkah
bersamamu ku rindukan surga
bersamamu sehidup sesurga

Saturday, January 21, 2017

Meniti Jalan Generasi Terbaik



Khoirunnasi qarni, tsummalladzina yalunahum, tsummalladzina yalunahum

Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringinya (yaitu generasi tabi’ut tabi’in)

(HR. Bukhori)

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.


(Qs. Al Maidah ayat 54)


Materi #8 - Menulis Huruf Hijaiyyah


Link download : Klik disini 

Friday, January 20, 2017

Hikmah #17 - Berjuanglah !


Berjuanglah, terus belajar hinga kemalasan itu malas mengikutimu.
Berjuanglah, terus bergerak hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Berjuanglah, terus berjaga hingga ke kefuturan itu futur mengikutimu.

Membaca ceritamu, tak ubahnya seperti mengingat kenangan masa kuliahku dulu.
Semangat belajar, penuh dengan idealisme, tetap dalam ghiroh tafaqohu fiddin.
Semesta rasa mewarnai hari hariku semasa dulu dibangku perkuliahan.
Memutar otak untuk bisa membagi waktu antara ngaji, kelompok, majlis, kuliah, praktikum, lomba,
rasa-rasanya tidak ada waktu untuk isirahat.
Andai ada yang jual waktu mungkin sudah aku beli sejak dulu

Meskipun aku kuliah di Pemuliaan Tanaman.
Mungkin kuliahku tak semulia kuliahmu.
Berinteraksi dengan anak anak generasi muda,
belajar bersama, berdiskusi, menyemangati, dan memotivasi,
untuk terus berbenah untuk mejadi hamba yang istiqomah

Aku yakin kamu juga merasakan semesta rasa yang sama.
Begitu banyak cerita, kenangan dan harapan yang tercipta,
maka dari ku hanya ingin berpesan cukuplah Allah bagimu, bagiku dan bagi kita semua.
"Hasbiyallahu laa ilaahaillallah 'alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul 'arsyil adhim

BersamaNya ku lalui setiap lika liku perjuangan dalam tholabul 'ilmi.
KarenaNya selesaikan setiap tahapan yang harus ku lalui, setiap mimpi yang ku ciptakan.
Cukuplah karenaNy ku berpasrah melantunkan sejuta doa, dan harapan.

Bercerita tentang kuliah, terlalu indah untuk ku ceritakan sekarang.
Banyak cerita hikmah yang ku dapatkan dari lelahnya perjuangan fiisabilillah.
Sejujurnya banyak orang yang mengatakan aku itu orang yang idealis, perfeksionis, melankolis.
Sejak awal perkuliahan aku sdh memutuskan untuk tinggal di asrama,
dan Alhamdulillah Allah memilihkan Majlis Depok menjadi asramaku

Banyak rasa, cerita dan cita yang lahir dari setiap langkah perjuanganku,
mulai semester 3 dengan keputusanku keluar dari dunia asisten.
Ikut lomba sana sini, sampai pernah dlm sebulan menjadi grand finalis di dua lomba yg berbeda,
lalu aku memutuskan hijrah ke salah satu pondok Mahasiswa di Jogja di semester 4.
Setahun kemudian akhirnya mimpi lomba ke luar negeri pun tercapai,
dan berhasil meraih medal perak, membawa nama baik indonesia di kancah internasinal
merintis usaha mulai dari bisnis konveksi, aksesoris, makanan, sayuran, sampai jasa les privat
berhasil menjadi salah satu anggota Forum Indonesia Muda dan
selama kurang lebih 2 tahun menyelesaikan penelitian sampai skripsi

Subhanallah, wal hamdulillah wa laa ilaa ha illallah

Thursday, January 19, 2017

Hikmah #16 - Perjuangan Menjadi Muslim yang Kaffah


Satu nasehat dari salah satu ustadz dari Pondok Pesantren Impian saya

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada
orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan
dan berkata "Sungguh aku termasuk orang orang muslim (yang berserah diri)?"
(Qs. Fushilat ayat 33)

"Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun berat,
dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.
Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 
(Qs. At Taubah ayat 41)"

"Whai orang orang yang beriman !
Masuklah ke dalam islam secara keseluruhan dan
janganlah kamu ikuti langkah langkah setan.
Sungguh ia musuh yang nyata bagimu."
(Qs. Al Baqarah ayat 208)

Beberapa ayat diatas adalah sebagian firmanNya
yang senantiasa menyemangatiku untuk dapat selalu
menjadi pribadi muslim yang senantiasa bermujahadah
menjadi muslim yang kaffah

Apa yang ku alami sekarang sungguh jauh lebih terasa berat 
dari pada masa lalu ku yang juga diwarnai lika liku perjuangan
mulai dari menjaga pergaulan, merawat cinta pada kemajlisan, 
istiqomah dalam kajian, dan  menghindari segala macam kesia siaan. 
Semua itu sudah ku jalani dan ku rasakan

"Laa haulaa wa laa kuwwataa illa billah"

Selalu ku sadari bahwa aku adalah seorang hamba,
hamba yang senantiasa tak luput dan salah dan dosa
lemah tak berdaya tanpa kuasa dariNya.

Maka bersamaNya dan atas pertolonganNya
ku tempuh jalan perjuangan dalam ukhwah dan dakwah
ku relakan semua kecerian dan kehangatan pertemuan bersama keluarga
ku tetap bertahan di sini, ya disini...
bertahan dengan segala kekurangan untuk terus berjuang

Berjuang menata hati, untuk mengerti arti,
membuka hati dan pada akhirnya menuju bakti
menyerahkan segala yang ku miliki kepadaNya
tenagaku, pikiranku, waktuku, hartaku, semuanya

apapum itu, mulai dari membangun pemuda dan asrama yang madani,
menyampaikan tahsinul quran dengan segala kesungguhan,
mengajarkan ilmu pelajaran (privat) dengan penuh kasih sayang,
merintis dan  mendampingi TPA yang ceria sholeh dan cerdas,
merangkai hikmah dalam indahnya kata yang menuh makna,
dan menjadi pribadi yang senantiasa bermanfaat untuk sesama

Cukuplah Allah penolongku.
ya Qowiyy... Kuatkan hamba ya Allah,
Kuat menjadi hamba yang kaffah dalam lillah
dan istiqomah dalam dakwah

Bismillah

"Hasbunallah wani'mal wakiil, ni'mal maulaa wani'man nashir"

- AM - 19 Januari 2017 -

Wednesday, January 18, 2017

Nasyid #2 - Teman Perjuangan



Teman perjuangan,
berjuang bersamaNya, karenaNya, untukNya, dan di jalanNya.

Teman perjuangan,
adalah teman yang kehadirannya sangat ku nantikan
membersamai dalam perjuangan, pengorbanan dan kesetiaan
bersama menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wata'alaa
tunduk, mendekat dan berserah kepadaNya
dalam syukur ingat dan taat

Sungguh hati ini hanya milikNya,
hamba ikhlaskan kepadaNya, redha atas segala keputusanNya.
Bukan dari cantiknya rupa dan mewahnya harta,
namun dari mulainya hati semata.

Hati yang tenang dan selalu menenangkan
Hati yang ingat dan selalu mengingatkan 
Hati yang kuat dan selalu menguatkan
Hati yang sayang dan selalu menyayangi
Hati yang semangat dan selalu menyemangati

Merajut asa, berjuta doa, berserah padaNya.
Tulus menyambut cinta yang datang dariNya.
Sabar menanti dengan sabar yang indah.

Berjuang menetapi hati dengan keikhlasan, kesyukuran dan kesabaran,
menetapi langkah dengan keistiqomahan.

Berjuang menjadi hamba yang kaffah dalam lillah,
dan istiqomah dalam dakwah.

AM -  Jogja, 18/01/2017

Friday, January 13, 2017

Nasyid #1 - Cinta - The Fikr

Untukmu yang sedang berjuang,
bersabarlah dengan sabar yang indah
Sabar dengan sebaik baiknya penjagaan, dan
syukur dengan beribu kesungguhan dalam ketaatan

Bersamamu,
temani langkah dalam jalan dakwah
semua pengabdianmu mengajarkanku tentang arti kesungguhan
tetap dalam iffah dan izzah selama masa penantian

KarenaNya ku menemukan cinta
cinta yang lahir bukan atas sebab kecantikan atau lebarnya hijab
karena darinya ku menundukkan mata untukmu
namun cinta ini tumbuh dari lelahnya dakwah

BersamaNya,
melangitkan do'a,
merajut asa,
berserah padaNya.

KarenaNya, UntukNya dan di JalanNya

Jogja, 14/01/2017 - MA



Lirik :

Mencintai dicintai fitrah manusia
Setiap insan di dunia akan merasakannya
Indah ceria kadang merana itulah rasa cinta

Berlindunglah pada Alloh dari cinta palsu
Melalaikan manusia hingga berpaling dari-Nya
Menipu daya dan melenakan sadarilah wahai kawan

Cinta adalah karunia-Nya bila dijaga dengan sempurna
Resah menimpa gundah menjelma jika cinta tak dipelihara

Cinta pada Alloh cinta yang hakiki
Cinta pada Alloh cinta yang sejati
Bersihkan diri gapailah cinta Cinta Ilahi

Berlindunglah pada Alloh dari cinta palsu
Melalaikan manusia hingga berpaling darinya
Menipu daya dan melenakan sadarilah wahai kawan

Utamakanlah cinta padanya terjagalah amalan kita
Binalah slalu cinta Ilahi hidup kita kan bahagia

Cinta pada Alloh cinta yang hakiki
Cinta pada Alloh cinta yang sejati
Bersihkan diri gapailah cinta Cinta Ilahi

Thursday, January 12, 2017

Serial Berkah #10 - Allah Berkahi Usiaku


Siapa yang tidak kenal dengan kitab Riyadhus Shalihin? Ya, penulisnya adalah Al Imam An Nawawi rahimahullahu ta’ala, ulama abad 7 Hijriyah yang berasal dari Suriah. Kitab ini, kitab yang diberkahi oleh Allah subhana wa ta’ala. Rasanya tidak ada masjid di muka bumi ini yang tidak kenal kitab Riyadhus Shalihin. Bahkan berapa banyak di rumah-rumah muslimin memiliki kitab yang luar biasa ini, kitab hadist Riyadhus Shalihin.

Padahal kitab Riyadhus Shalihin, terhitung salah satu kitab yang tipis dibandingkan dengan karya-karya An Nawawi yang lainnya. An Nawawi rahimahullahu ta’ala memiliki tulisan di berbagai bidang ilmu; fikih, hadist, menjelaskan kitab-kitab hadist, mustholah hadist, bahasa, tauhid, berbicara juga tentang geografi dan seterusnya. Beliau menulis di dalam banyak ilmu. Tentu kitab Arba’in yang tipis hanya 42 hadits kita juga tahu, tapi isinya luar biasa sehingga banyak dikenal saat hari ini. Dan bahkan menjadi standar awal bagi mereka yang ingin menghafal hadits. Ada Raudhotholibin, ada Al Minhaj yang merupakan penjelasan Shahih Muslim yang terbaik. Kemudian ada kitab fikih yang sangat terkenal Al Majmu Syarhu Muhadzab, Tadzhibul Asma’ wa Lughot, Al Adzkar An Nawawi, dan seterusnya. Sangat banyak karyanya.

Kalau dibandingkan dengan usianya Imam Nawawi, ternyata sangat singkat dibandingkan karyanya. Maka dalam satu hari dibagi usianya, An Nawawi menulis beberapa bab. Dalam satu buku, kita tahu ada berapa bab. Itu kalau dibagi dengan usianya, padahal kita tahu tidak mungkin orang ketika lahir langsung menulis buku. Perlu berilmu dulu, menjadi ahli ilmu kemudian baru menulis buku.

Mari kita fikirkan, berapa sekarang usia kita dan apa yang sudah kita lakukan? Mari kita lihat bagaimana kesibukan An Nawawi rahimahullahu ta’ala yang ternyata Allah panggil di usia yang masih cukup muda yaitu 45 tahun. An Nawawi berkata, “Setiap hari saya belajar 12 pelajaran.” Subhanallah, satu hari 12 pelajaran. Dan dia belajar baik syarhan wa thoshihan, baik penjelasannya atau untuk membenarkannya kalau ada yang salah.

Ada Al Washit kemudian kitab Al Muhadzab, Al Jama’ Baina Shahihain, ada Shahih Muslim, kitab Al Luma’ ibnu Jinni dalam masalah Nahwu, ada Ishlahu Mantiq Ibnu Siqit dalam masalah bahasa, kemudian ada dalam Ushul Fikih ada At Tashrif, Al Luma’ Abu Ishaq, Al Munatqhof Fakhrudin Arrazi. Luar biasanya, kitab-kitab ini dipelajari dalam satu hari. Dia mempelajari bahkan kemudian dia mengatakan: Saya mencatatnya, saya memberikan penjelasannya, kemudian saya menjelaskan apa yang sulit, menjelaskan kata-katanya, kemudian melihat secara bahasa, dan seterusnya. Maka dari itu, usianya hanya 45 tahun tetapi karyanya lebih panjang dari usianya, bahkan menjadi karya yang hidup setelah dia tiada.

An Nawawi berkata, “Wabarokallahuli fi wakti wasytigholi wa a’nani ‘alaih.” (Allah memberkahi waktuku, kesibukanku, dan Allah membantuku dalam hal itu).

Ini penting! Jangan sekadar sibuk dan jangan sekadar usia panjang. Apalah artinya kesibukan melimpah, usia panjang, kesempatan banyak, tetapi tidak diberkahi dan tidak ditolong Allah. Karena itulah, maka mari kita berdo’a dan melakukan hal yang membuat Allah ridho. Agar berapa pun usia kita yang Allah berikan itu diberkahi. Agar semua kesibukan kita adalah kesibukan yang diberkahi juga dan ditolong oleh Allah subhana wa ta’ala.

Semoga usia kita adalah usia yang diberkahi Allah. Berapa pun yang Allah berikan, kesibukan kita adalah kesibukan yang menghasilkan hal-hal yang terus hidup, bahkan setelah kita tiada nanti.

Wallahu ta’ala ‘alam  bishowab.

Serial Berkah #9 - Allah Berkahi Malam Pengantin Kalian


Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu anhu menyampaikan kisah tentang ibunya sendiri, wanita mulia yang mengantarkannya menjadi orang besar yang dekat dengan Rasul shallahu ’alaihi wa sallam, yaitu Ummu Sulaim radhiyallahu anha.

Kisah ini adalah kisah antara Ummu Sulaim, sang bunda, dengan suaminya, yaitu Abu Thalhah. Ia adalah ayah tiri Anas bin Malik.

Anas radhiyallahu anhum ajma’in berkata bahwa Abu Thalhah punya anak kecil, artinya adalah adiknya Anas bin Malik, satu ibu. Anaknya Abu Thalhah suatu hari sakit. Anak kecilnya sakit, namun Abu Thalhah harus pergi, maka pergilah ia. Qodarullahu ma’syaafa’al, ternyata anak itu meninggal. Ketika anak itu meninggal, Abu Thalhah tidak tahu. Maka ketika Abu Thalhah pulang, ia tidak segera diberitahu oleh sang istri, Ummu Sulaim radhiyallahu anha. Dalam Thobaqot Ibnu Sa’ad, bahkan Ummu Sulaim berkata kepada orang-orang yang mengetahui berita meninggalnya anak kecil ini, kata Ummu Sulaim “La tukhbiru Aba Thalhah hatta akun ana ukhbiru.” “Jangan kabri Abu Thalhah, biar aku sendiri yang mengabari dia.”  Nampaknya Ummu Sulaim punya cara untuk menyampaikan kesedihan yang pasti juga menguras hatinya, karena ia ibunya. Tentu sangat menguras hati.

Tetapi, subhanallah, Ummu Sulaim ini wanita cerdas. Wanita yang kokoh jiwanya dan kuat tawakalnya. Ia ingin menyampaikan kesedihan pada suaminya di waktu yang tepat tidak mau mengganggu hari istimewanya, setelah berpisah dan bertemu di malam yang istimewa itu.

Maka malam itu Ummu Sulaim menyiapkan makan malamnya, mereka makan malam berdua ibarat pengantin baru. Malam yang sangat indah dan bahkan mereka berdua menyelesaikan malam itu dengan penuh keindahan, Abu Thalhah mencampuri istrinya, subhanallah. Esok paginya, semua dalam keadaan bahagia, nyaman. Maka Abu Thalhah yang sebenarnya sudah bertanya ketika baru datang, bagaimana keadaan putraku? Dan ketika itu Ummu Sulaim menjawab, “Dia lebih tenang dibandingkan sebelumnya.”

Pada pagi hari itu, Ummu Sulaim berkata pada Abu Thalhah, “Wahai Abu Thalhah, ada keluarga fulan meminjam sesuatu dari keluarga fulan, tetapi begitu diminta barangnya, ternyata tidak mau memberikannya.” Abu Thalhah menjawab, “Tidak boleh itu, karena pinjaman itu harus dikembalikan kepada yang punya.” Ternyata ini sebuah muqadimah. Lagi-lagi wanita cerdas bicara dengan suaminya menggunakan muqadimah yang indah. Kemudian Ummu Sulaim menyampaikan: “Ssesungguhnya putramu adalah pinjaman dari Allah dan Allah telah mengambilnya.”

Subhanallah, kemudian Abu Thalhah mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, dia langsung pergi ke Nabi Shallahu ’alaihi wa sallam dan menyampaikan duka ini berharap mendapatkan hiburan dari Nabi Shallahu ’alaihi wa sallam. Dan Nabi Shallahu ’alaihi wa sallam berkata pada Abu Thalhah, “Apakah semalam kalian menjadi pengantin baru?” Kata Abu Thalhah, “Ya, Rasulullah.” Maka Rasulullah Shallahu ’alaihi wa sallam berkata, “Allahumma barik lahuma (Ya Allah berkahi keduanya).” Dalam riwayat lain, Nabi mengatakan, “La’alallah ha an yubarika lakuma fil lail lakuma (Semoga Allah menjadikan malam kalian sebagai malam yang diberkahi oleh Allah subhana wa ta’ala).”

Apa hasil dari doa itu?

Hasilnya adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi dalam Al-Minhaj dan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari’, ternyata benar bahwa malam itu adalah malam di mana setelah itu Ummu Sulaim hamil. Dan lahirlah anak yang dinamai dengan Abdullah. Bahkan langsung ditahnik oleh Nabi shallahu ’alaihi wa sallam dan ternyata Abdullah ini memiliki sembilan anak-anak yang sholeh. Semuanya ulama, dan semuanya hafal Al-Qur’anul Karim. Subhanallah.

Inilah arti dari sebuah keberkahan untuk anak-anak kita. Maka lakukan semua hal dalam keluarga kita atas dasar Allah dan Rasul-Nya, agar diberkahi. Kalau diberkahi, berapa pun jumlah anak-anak kita dan cucu kita, maka seperti inilah keberkahannya. Akan menjadi orang sholeh, ahli Al-Qur’an, bahkan menjadi ulama.

Semoga Allah memberkahi keluarga kita semua.

Wallahu ta’ala ‘alam  bishowab.

Peresmian Gedung YADINA



Yadina merupakan singkatan dari Yayasan Pendidikan Islam Nur Aini. Sebuah yayasan yang peduli terhadap anak berkebutuhan khusus.Mencoba berinovasi agar bisa menjadi lembaga yang bisa memberi banyak manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan khususnya bagi anak berkebutuhan khusus. 

Yayasan Pendidikan Islam Nur Aini bergerak disemua lini, tidak hanya pada bidang pendidikan formal saja, namun bergerak juga di bidang, agama,  sosial dan kemanusiaan. Pendidikan dalam YADINA diikuti dengan Pendampingan baik dalam bidang penerapan agama, keterampilan dan akademiknya serta ketrampilan sosialnya agar mampu berinteraksi dan berbaur dengan masyarakat umum.

Alamat Lengkap :
Kantor Pusat : Glagah Lor Rt 02 Tamanan Banguntapan Bantul
Unit : Surokarsan MG II/44 Mergangsan Yogyakarta

Telepon :
Drs. Abdul Zaelani - 0813 2838 0419
Tri Purwanti, S.Pd. - 0877 3894 2060

Email :
yadinayogyakarta@yahoo.com

Senyum Manis Bintang YADINA



SLB Islam Qotrunnada
TPA Iqra' Nur 'Aini

Wednesday, January 11, 2017

Serial Berkah #7 - Pagi yang Berkah


Allah subhana wa ta’ala memberikan kepada kita satu hari satu malam 24 jam. Dan sama saja, mau hari Senin, hari Selasa, hari Rabu dan seterusnya, satu hari itu mesti 24 jam. Tetapi, kita merasakan hari-hari itu kita lalui dengan kualitas yang berbeda-beda. Bukankah terkadang kita pernah merasakan satu hari penuh dengan kebaikan dan ketaatan, penuh karya? Tapi terkadang ada satu hari kita lalui, yang bahkan kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, kosong. Kita tidak tahu harus merencanakan apa, kemudian berlalu sia-sia. Bahkan terkadang, ada satu hari yang kita lewati dengan dosa-dosa yang terselip di sana.

Bagaimana caranya supaya sebuah hari menjadi barokah?

Ternyata, ada ajaran yang menarik dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam kalau kita ingin hari-hari kita sepanjang 24 jam penuh keberkahan, bahkan hingga akhir harinya ditutup dengan keberkahan. Kunci pertamanya adalah mulailah pagi hari itu dengan keberkahan.

Dari Shakhor Al Ghamidi radhiallahu anhu, Rasulullahi shallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Allahumma barik li ummati fi bukuriha.” “Ya Allah berkahilah umatku pada pagi harinya.”

Ternyata, kita ini sudah didoakan Nabi shallahu ‘alaihi wasallam agar pagi kita ini barokah. Karenanya, ambil pagi hari itu dan jangan biarkan dia berlalu tanpa aktivitas yang mulia.

Mari kita lihat selanjutnya.. “wakaana idza ba’atsa syariyatan au jaisyan ba’atsa hum awallan nahar,” Nabi itu kalau mengirimkan pasukannya, Nabi mengirimkan di awal siang. Artinya di pagi hari. Untuk apa? Supaya barokah pasukannya itu. Kalau barokah, Masya Allah hasilnya. Pasukan itu akan ditolong Allah subhana wa ta’ala.

Bahkan Shakhor Al-Ghamidi sendiri, wakaana shokho rojulan taajiron, beliau itu ialah seorang pedagang. Wakaana idza ba’atsa tijarotan ba’atsa hum awwalan nahar, beliau kalau mulai mengirimkan dagangannya, beliau juga mengirimkannya di awal siang, yaitu di pagi hari. Mulai dari pagi beliau sudah membuka aktivitas perdagangannya. Maka apa hasilnya? Barokah!

Ternyata, salah satu makna barokah adalah fa at’tsara wa katsuro maluhu. Maka Shakhor radiallahu anhu menjadi kaya dan banyak hartanya. Bukankah ini yang diinginkan oleh mereka-mereka yang beraktivitas, berusaha agar hartanya melimpah dan banyak?

Ambil pagi hari, aktivitas pagi hari, dan memulai pagi hari karena di sana ada do’a Rasul untuk umatnya. Untuk kita semua agar kita diberkahi di pagi itu. Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dinyatakan hasan oleh At-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh Albani.

Maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan kepada kita do’a di pagi dan sore hari. Di antara isi dzikir pagi dan sore hari adalah apa yang diriwayatkan Abu Daud dan dihasankan oleh Albani dan Al-Arnauth. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa ketika kalian di pagi hari dan sore hari maka bacalah ini:

“Ashbahnaa wa ashbahal mulku lillahi rabbil’aalamiin, allahumma innii as’aluka khoiro hadzaal yaumi, fathahu, wa nashrohu wa nuurohu, wa barokatahu, wa hudaahu, wa a’udzubika min syarri maa fiihi wa syarrimaa ba’dahu.”

 “Ya Allah aku di pagi hari ini dan pagi hari ini kerajaan milik Allah Rabbul ’Aalamiin. Ya Allah aku meminta kepadamu kebaikan hari ini, yaitu kemenangan-Nya, kebaikan-Nya, pertolongan-Nya, cahaya-Nya, barokah-Nya, dan petunjuk-Nya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan setelahnya.”

Ternyata dalam satu hari itu ada keberkahan hari, maka tidak ada kamus kesiangan bagi keluarga muslim. Tidak ada kamus tidur setelah Shubuh. Beraktivitaslah, beraktivitaslah, berbuatlah kebaikan, berbuatlah kebaikan. Maka kita akan mendapatkan barokah-Nya, dan semoga satu hari itu adalah hari barokah, dan kita tutup hari itu juga dengan barokah.

Maka ambil keberkahannya, semoga Allah memberkahi kita semuanya.

Wallahu ta’ala a’lam bishowab.

Kumpulan Maqolah Mutiara Islam #2








Thursday, January 5, 2017

Buletin JogjaJE #1 - Ready to Change ? (Spesial to SMA MTA)





Download File .crd : menyusul hehe ^_^

Qs. Fushshilat ayat 30-36



Isyhaduu bianna muslimunn

Serial Berkah #5 - Makanlah Bersama - sama


Wahsyi radhiyallahu anhu, sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, meriwayatkan sebagaimana yang disampaikan dalam Sunan Abi Dawud dan Sunan Ibnu Majah, dan hadits ini dihasankan oleh Al-‘Iroqi dan Al-Albani, rahimahullahu jami’an.

Kata Wahsyi, sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. ”Ya Rasulallah, Inna na’qulu wala nasyba?” (Ya Rasulullah, kami makan, tapi mengapa kami tidak kenyang-kenyang?)

Subhanallah, para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, untuk urusan kenyang pun mengadu kepada Nabi. Dan begitulah juga seharusnya hidup kita, bertanyalah ke Rasul tentang hidup ini dalam segala hal. Karena ternyata para sahabat, urusan makan yang tak kunjung kenyang pun bertanya pada Nabi. Kami makan banyak ya Rasulullah, tapi kenapa kami tidak kunjung kenyang?

Maka lihat jawaban Nabi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, karena jawabannya di luar dugaan kita. Ternyata urusan kenyang bukan sekadar anda makan banyak, atau bukan sekadar sebagus apa nutrisi kita, tapi ada konsep lain dalam Islam yang sumbernya langsung datang dari wahyu.

Rasulullah mengatakan, “Fa la’allakum ta’kuluna mutafarriqin,” (Mungkin kalian makannya terpisah-pisah atau sendiri-sendiri.) “Qolu na’am,” (mereka menjawab, Iya). Maka Nabi pun memberikan pesan (wejangan). Kata Nabi, “Fajtami’u ‘ala tho’amikum wad kurusmallahi ‘alaihi yu baroklakum fiih.” (Berkumpulah kalian kalau makan. Makanlah bersama-sama, sebutlah nama Allah, dan kalian akan diberkahi di makanan itu.)

Ternyata, makan bersama itu adalah konsep nubuwwah, konsep dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam agar makanan kita diberkahi untuk kita. Kalau diberkahi itu ternyata maknanya adalah membuat kalian cepat kenyang, bukankah pertanyaan sahabat adalah makan yang tak kunjung kenyang?

Maka dari itulah, Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari’, beliau menukil riwayat Ibnu Umar, mauquf dari Ath-Thabrani, diberikan alasannya. “Kullu jami’a wala tafarroku fa inna tho’amal wakhid yasfilisnain,” (Makanlah bersama-sama dan jangan terpisah-pisah karena sesungguhnya makanan satu orang cukup untuk berdua.)

Itu artinya, makanan kita bahkan bisa mencukupi sampai dua kali lipatnya. Subhanallah, inilah solusi. Makan kumpul bersama ialah konsep yang sederhana, tapi ada tema keberkahan di sana.

Adapun ayat dalam surat An-Nur  ayat 61, laisa ’alaikum juna khun’alaikum antakulu jami’an au asytata, tidak masalah bagi kalian untuk kalian makan bersama-sama atau makan terpisah-pisah. Ayat ini sudah dijelaskan oleh Ali Al-Mula Al-Qori dalam Riqotul Mafatih, ayat ini adalah rukhsoh, artinya sebuah keringanan akan bolehnya makan sendiri-sendiri, untuk menghilangkan rasa tidak nyaman bagi orang yang makan sendiri ketika keadaannya tidak memungkinkan untuk makan bersama-sama. Akan tetapi, kalau kita ingin makanan kita diberkahi, kalau kita ingin segera kenyang ketika makan, maka berkumpullah bersama-sama. Makanlah bersama-sama. Maka dari itu, mari ambil berkahnya. Semoga Allah subhana wa ta’ala memberkahi kita semua. 

Wallahu’alam bi showab.

Serial Berkah #4 - Kekayaan Penuh Keingkaran


Masih banyak sekali bertebaran dalam al-Qur’anul Karim, kisah sejarah umat terdahulu yang menjadi pelajaran mahal. Kisah yang menjadi panduan Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam membimbing para sahabatnya, mengkader mereka, berdakwah di masyarakatnya, menghilangkan kejahiliyaan yang ada pada mereka, dan tentu menjadi panduan untuk kita semuanya.

Surat yang disunnahkan untuk dibaca setidaknya seminggu sekali di malam/hari Jumat ialah surat al-Kahfi. Surat ini memuat beberapa kisah, dan di antaranya adalah kisah tentang dua orang yang berteman, tetapi mereka diberikan Allah subhana wa ta’ala nasib ekonomi yang berbeda. Allah subhana wa ta’ala di dalam ayat yang ke-32 dari surat al-Kahfi dan seterusnya berkisah tentang dua orang ini.

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang (tanaman-tanaman yang lain).” (al-Kahfi: 32)

Sungguh sangat luar biasa jika kita membayangkan dua kebun anggur yang dikelilingi oleh kurma, kemudian di antara kedua kebun itu ada tanaman-tanaman lainnya. Tentu ini adalah kebun yang luar biasa. Makanya al-Qur’an mengatakan kedua kebunnya menghasilkan buah. Maka menjadi  kaya rayalah orang ini, berbeda dengan temannya yang miskin. Akan tetapi, kekayaan yang melimpah ruah yang seharusnya menghasilkan syukur itu justru menghasilkan kezaliman.

Di ayat 35 Allah menyampaikan itu, dia masuk kebunnya dalam keadaan zalim terhadap dirinya sendiri. Lihat! Hati-hatilah dengan kekayaan. Seharusnya kekayaan di dunia ini—bagi siapa pun yang Allah berikan kenikmatan kaya di dunia—maka lanjutkan kekayaan itu sampai anda menjadi orang kaya di akhirat sana, di surga Allah subhana wa ta’ala. Jangan hanya kaya di dunia yang sementara dan kemudian sengsara di akhirat nanti. Ini termasuk orang yang merugi, ternyata harta menghasilkan kezaliman bagi dirinya sendiri.

Setidaknya ada dua kesalahan besar yang dia lakukan karena kaya lupa diri. Dia pikir dunia ini akan mengabadikan dirinya hidup di dunia. Dia pikir tidak mati. Dia pikir bisa membeli segalanya, sampai ia (pemilik kebun) mengatakan saya menduga bahwa kebun ini akan akan abadi tidak hilang, terus menghasilkan. Bahkan saya menduga kiamat itu tidak ada.  Pemilik kebun ini berani pada Allah subhana wa ta’ala, padahal ia hanya memiliki sekelumit debu dunia ini. Hati-hati, orang lupa diri hanya karena kekayaan yang sangat terbatas. Bahkan dia salah dalam memaknai harta.

ia menduga dengan dia kaya adalah bukti Allah mencintainya. Dan nanti kalau dia kembali pada Allah dia pasti mulia. Ini salah tolok ukur. Kemuliaan di sisi Allah bukan karena kekayaan, tetapi siapa yang paling bertaqwa. Maka dinasihatilah ia oleh temannya yang baik itu.apakah kamu kafir? Ingkar? Kufur nikmat terhadap yang telah menciptakan kamu dari tanah, dan seterusnya. Dinasihati tetapi tetap tidak mau, akhirnya ujung dari semua itu adalah,

Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak berbuat kemusyrikan kepada Allah.“ (al-Kahfi: 42)

Akhirnya kebun itu dihancurkan Allah subhana wa ta’ala, dan kemudian dia menyesal dan berkata, andai saya tidak berbuat kemusyrikan kepada Allah.

Jadi bukanlah sekadar banyak, akan tetapi harus berkah. Oleh karena itu, jangan sampai kita menjadi orang yang lalai, orang yang sombong, orang yang jauh dari agama Allah, hanya karena harta kita. Karena mudah sekali bagi Allah untuk mencabutnya, mengambil kenikmatan yang kita nikmati hari ini.

Maka pertahankan keberkahan itu. Ambil berkahnya. Semoga Allah subhana wa ta’ala memberkahi kita semua.

Wallahu’alam bisshowab.

Serial Berkah #3 - Gagal Panen


Al-Qur’anul Karim sepertiganya adalah kisah, sebagaimana yang disampaikan oleh para ulama Al-Qur’an. Itu artinya, betapa pentingnya posisi sejarah untuk membangun generasi peradaban.

Kita ambil satu kisah, yang kisah ini merupakan salah satu kisah yang awal diturunkan oleh Allah kepada Nabinya dalam mengawali langkah di Makkah. Kisah ini diturunkan karena Nabi mulai berhadapan dengan orang-orang musyrik Makkah yang menentang dakwah beliau. Allah berikan kisah ini dalam surat Al-Qalam. Allah berfirman dalam Qs.Al-Qalam 17 : “Sesungguhnya kami telah menguji mereka, yaitu orang-orang musyrik Makkah, sebagaimana kami menguji para pemilik kebun ketika mereka dulu bersumpah bahwa mereka benar-benar akan panen di pagi hari.”

Said bin Zubair rahimahullah, sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, beliau berkata bahwa para pemilik kebun ini adalah mereka yang tinggal di sebuah tempat yang bernama Dharawan, di mana tempat ini lokasinya 6 mil dari Kota Shan’a di Yaman. Kisahnya adalah bahwa para pemilik kebun ini dulunya punya ayah. Ayahnya adalah orang yang mulia, baik, dermawan sekali. Setiap dia panen, dia panggil orang-orang miskin ikut panen menikmati kebunnya. Orang miskin datang ada yang membawa tempat, keranjang, atau menggunakan tangannya untuk membawa hasil panen yang sama-sama dinikmati itu.

Ayah yang baik ini sudah mengukur bahwa dia memanfaatkan apa yang bisa dia manfaatkan dari kebunnya, disimpan sebagiannya untuk makan dia dan keluarganya selama setahun, dan sisanya dishadaqahkan. Ketika dia meninggal, anak-anaknyalah yang mewarisi kebun itu. Tapi mereka berkata, “Ayah kita ini tidak cerdas. Andai kita tidak berikan pada orang-orang miskin, kita akan lebih kaya dari sekarang.” Ini hitungan matematis, bukankah begitu? Maka berhati-hatilah punya anak yang hanya diajari hitungan matematika dunia, tapi tidak pernah diajari hitungan Allah Yang Maha Memberi Keberkahan, Yang Memiliki kekayaan di langit dan di bumi serta seluruh isinya. Seperti anak-anak pemilik kebun ini, mereka pandai berhitung. Jelas mereka tahu hitungannya, andai tidak diberi kepada orang miskin maka mereka lebih kaya. Tapi ketahuilah, inilah yang membuat mereka kehilangan keberkahan. Bahkan tidak hanya kehilangan keberkahan, mereka kehilangan kebun mereka dan tidak bisa panen!

Dalam Qs. Al-Qalam 19 mengatakan bahwa kebun mereka dihabisi oleh Allah saat mereka tidur, sehingga ketika esok paginya mereka harus panen, kebun mereka telah hangus dan gosong.
Akhirnya mereka menyesal di ujungnya. Mereka tidak bisa panen. Maka hilanglah semuanya, hilanglah rezeki mereka sepanjang tahun, hilanglah kebun mereka, bahkan hilanglah kesempatan untuk bershadaqah.

Dan Allah menutup (Dalam Qs. Al-Qalam 33. Itulah azab di dunia, dan azab di akhirat lebih besar lagi kalau mereka tahu. Oleh karenanya, berilah haknya orang tidak mampu pada harta kita. Jangan dzalimi mereka. Apa yang kita simpan dari harta, atau hak orang lain yang ada dii harta kita itu tidak ada baiknya. Yang ada justru menghilangkan keberkahan di harta kita. Maka ambil berkahnya, berikan hak orang lain, berikan hak-hak orang miskin di harta kita.

Wallahu a’lam bisshawab.

Hikmah #15 - Bersama dalam Dekapan Ukhwah


Bismillah…

Saudaraku, Ukhibukum Fillah
Mendalami agungnya cerita para sahabat yang terlingkar dalam dekapan ukhuwah,
membuatku banyak menerawang semua kisah yang mungkin sangat tak berbekas dibanding mereka.

Hanya saja, cerita-cerita sederhana itu, seperti menjadi kenangan-kenangan yang akan selalu membuat saya berkata ke dalam diri.. “bahwa dalam dekapan ukhuwah, kutemukan jalan cinta untuk Yang Maha Cinta..” Sejatinya, ia bukan hanya sekedar membuatku lapang dalam sempit, atau merasa sangat antusias meski lelah, lebih dari itu semua, dalam dekapan ukhuwah mengajarkan kepadaku untuk lebih memahami bahwa persaudaraan yang kokoh berdiri adalah jawaban dari setiap pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita.. “Akankah kita mampu bertahan ?”…

Dalam dekapan ukhuwah Saudaraku…
Kudo’akan kita masih Istiqomah, kita tak mau kalah untuk berkeringat, kita tak mau resah untuk sebuah pekerjaan yang terasa berat..

Dalam dekapan ukhuwah Saudaraku...
Kutitipkan semua kekuatan yang mungkin aku punya dan kau tak punya, agar ia terbang bersama, kemudian kita mampu saling bertukar semangat…

Dalam dekapan ukhuwah Saudaraku...
Kukirimkan setumpuk harap yang sederhana, namun berharap ia mampu saling menguati, kalimat sederhana ini hanyalah catatan-catatan bagi cerita perjalanan kita yang tak banyak diketahui orang selain diri kita, Allah dan orang-orang yang ikhlas bersama-Nya..

Dalam dekapan ukhuwah Saudaraku…
Kutanamkan ikhlas sebagai pedoman, kusemai iman sebagai kekuatan, dan kusuburkan keyakinan sebagai jawaban dari setiap persoalan. Seperti hamparan kisah Hajar dengan keyakinannya pada Allah, seperti tumpukan rasa yakin Yunus as dalam do’a-do’a penuh penghambaannya. Semuanya akhina, ikhlas, iman, dan keyakinan yang kokoh mengakar dalam diri kita yang akan membuat kita memahami kenapa Sayyid Qutb tersenyum tenang menjelang syahid, kenapa Yusuf Qardhawi dengan tenang melanjutkan syuro ketika masih dalam keadaan lapar, atau ketika para pendahulu dakwah ini berlelah-lelah untuk sekedar menyampaikan kalimat-kalimat tausyiah bagi para pejuang yang haus akan cinta-Nya..

Dalam dekapan ukhuwah Saudaraku. Kusadari, bahwa setiap perjuangan bukanlah hal yang mudah. Ia meleburkan semua kebahagiaan, menghapus semua sifat pengandaian kita, menghujam dan menusuk semua sifat kemalasan kita, hanya saja, disetiap akhir cerita yang panjang dan menguras tenaga ini, Allah selalu menggantinya dengan kebahagiaan yang merasuk, kenyamanan yang membumi, hingga getar-getar cinta yang agung dan merambat di dalam jiwa-jiwa kita agar selalu tunduk pada-Nya.

Dalam dekapan ukhuwah Saudaraku. Kupelajari satu yang tak pernah kudapat dari yang lain. Bahwa bekerja bukan hanya berarti melakukan apa-apa yang kita cintai. Namun bekerja, juga merupakan terjemahan dari berlelah-lelah bagi apa yang kita tidak sukai, bahkan sekalipun itu menyangkut dengan kenyamanan hidup kita. Maka karena kita telah berani untuk bersumpah dan bekerja bersama-Nya, jadilah hati dan jiwa kita takkan pernah habis di isi kekuatan oleh-Nya untuk bergerak, takkan pernah habis diisi dengan mata air segar yang selalu memancarkan kebaikan dalam episode-episode hari kita.. Dalam dekapan ukhuwah Saudaraku... Aku belajar semuanya...

Saudaraku…

Aku, kamu dan kita semua, pernah merasa tak layak untuk sekedar berjuang dalam dekapan ukhuwah.. Mungkin karena kurangnya ilmu, kurangnya amal dan kurangnya iman di dalam diri.. Namun, karena dalam dekapan ukhuwah telah menawarkan sejuta cinta yang menggetarkan untuk-Nya, maka karena-Nya, aku akan terus bertahan, terus meretas jalan perjuangan, dan terus berlelah-lelah untuk menggapai kemenangan.. Dalam dekapan ukhuwah Saudaraku... berharap semuanya juga mampu kita rasakan dan kita amalkan..

Saudaraku...

Diakhir tulisan ini aku berharap, akhir dari dalam dekapan ukhuwah kita, bermuara pada telaga kautsar yang disampingnya telah ditunggu oleh Sang Lelaki Mulia, Nabi Muhammad saw.

Aamiin ya Rabb
Bersamamu, Ukhibukum Fillah

Inspired by : Dalam Dekapan Ukhwah Salim A. Fillah